Nurhasan Zaidi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Tulisan ini dimuat di Majalah Wahda Edisi Muktamar Ke-13 Seabad PUI)

Muktamar Ajang Konsolidasi Kader

Oleh H. Nurhasan Zaidi
Ketua Umum DPP PUI Periode 2010-2015, anggota DPR RI

Perhelatan Muktamar Ke-13 Seabad PUI, yang akan dihelat di Palembang, Sumatera Selatan, merupakan bukti bahwa organisasi berbasis massa Islam tertua ini terus maju ke depan. Itu buktu bahwa basis kader PUI sedang menancapkan pondasinya di bumi Sriwijaya. Tentu, ini juga sejarah yang sedang dilukis para aktivis PUI sebagai organisasi kader militan. Kader-­kader terbaik tengah berpendar dan menyebar sebagai agen perubahan ummat dan bangsa.

Seputar Muktamar ke-13 Se­abad PUI

Tema muktamar kali ini, “Menuju Indonesia Unggul, Mandiri dan Bermartabat,” tentunya sebuah tema besar dimana konsolidasi PUI dimatangkan, baik yang bersifat internal (konsolidasi ke dalam) maupun penguatan gagasan PUI dalam mewujudkan Indonesia yang unggul, mandiri dan bermartabat di masa depan.

Diantara yang menjadi prioritas PUI ke depan adalah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) muslim yang unggul. Al-Qur’an sendiri menegaskan, umat Islam adalah umat terbaik. Istilah lain untuk umat terbaik adalah manusia unggul, yang bermakna memiliki kelebihan dari umat yang lain. Ciri umat terbaik (unggul) adalah berperan aktif dalam beramar ma’ruf sekaligus dalam menegasikan kemungkaran. Pada saat bersamaan juga memiliki sikap teguh dan sungguh-sungguh dalam memperkuat penghambaan diri kepada Allah semata.

Muktamar kali ini juga dilaksanakan di Palembang. Ini tentu merupakan Muktamar yang sangat menyejarah dalam perjalanan PUI. Menyejarah, sebab selama hampir seabad berjalan, PUI selalu mengadakan muktamar di pulau Jawa, terutama di wilayah Jawa Barat. Bagaiman pun, perlu disadari, Jawa Barat merupakan tempat dimana PUI dilahirkan sekaligus propinsi terbesar yang menjadi satu basis massa PUI.

Sebetulnya penyebaran PUI ke seluruh penjuru Indonesia, secara personal, termasuk para dai, para alumni PUI dari berbagai madrasah atau sekolah berbasis PUI, sudah berlangsung sejak lama. Tapi memang satu tantangannya adalah belum terkonsolidasikan secara masif.

Karena itu, Muktamar kali ini mengagendakan upaya warga PUI untuk mengkonsolidasikan diri, baik dia yang berada di Palembang maupun berada di seluruh penjuru negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Ini merupakan upaya serius dan masif PUI untuk “membesarkan” dirinya, sekaligus untuk memperluas daya manfaatnya bagi publik-bangsa juga negara.

Sebagai inspirasi dan motivasi, tak sedikit kader PUI yang sudah memberikan peran terbaik dalam mengembangkan PUI di Palembang, seperti saudara Yuswar (Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Sumatera Selatan) dan saudara Fikriyanto. Mereka merupakan aktivis KAMMI yang sudah berpetualang di Jawa Barat. Sebagai kader yang berpijak pada sistem organisasi yang stabil dan sistem organisasi yang modern, maka harapannya mereka yang memiliki pengalaman serupa ketika kelak kembali ke daerah, mereka bisa “melebarkan” saya PUI sekaligus mampu mengkonsolidasikan seluruh kekuatannya.

Agenda ke Depan

Dalam konteks yang lebih strategis, pekerjaan besar PUI dalam jangka waktu 5 tahun ke depan adalah menyiapkan manusia-manusia unggul, yaitu manusia yang mampu memahami PUI sekaligus menjalankan agenda strategis dakwah serta perjuangannya ke seluruh pelosok Nusantara.

Untuk saat ini mesti diakui PUI masih fokus menguatkan konsep ideologi sekaligus mengaktualisasikannya agar mampu dipahami oleh masyarakat bangsa. Itulah yang dalam konsepsi ideologi PUI tercantum dalam Intisab dan Isahus Tsamaniyah. Sebab inti keberadaan PUI adalah bagaimana PUI mampu menginternalisasi ideologi tersebut, lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan berjamaah (berorganisasi) dan bermasyarakat serta bernegara.

Lebih khusus, pada periode lima tahun ke belakang hingga 2014 ini, rumusan-rumusan ideologi PUI sudah mulai terumuskan dengan baik. Hal ini dapat dipahami, misalnya, hadir atau diterbitkannya berbagai buku yang menjelaskan ideologi dan khittah perjuangan PUI. Contohnya, buku Risalah Intisab, Syarah Intisab, Panduan Islahus Tsamaniyah, Tadabbur al-Quran, Panduan Kaderisasi PUI, dan Sejarah Seabad PUI. Buku-buku inilah yang mesti dimiliki, dibaca dan diinternalisasi dalam jiwa seluruh kader dan struktur PUI.

Secara simultan PUI akan terus melakukan aktualisasi doktrinnya yang lebih implementatif, sebab zaman selalu menuntut agar PUI dinamis dalam berhadapan dengan berbagai tantangan dakwah atau perjuangannya.

Ke depan tentu saja PUI tetap memiliki stok pekerjaan yang mesti ditunaikan dengan segera. Di sini PUI perlu “dipaksa” untuk terus melakukan proses ijtihad organisasinya termasuk dalam merumuskan langkah-langkah amaliah PUI, baik dari segi pemikiran maupuan pengamalan kader juga strukturnya. Sederhananya, PUI akan terus berpacu dalam memperkuat basis kaderisasi sebagai sarana internaslisasi berbagai pemikiran dakwahnya melalui sekolah, perguruan tinggi serta proses kaderisasi khas PUI.

Kalau ditelisik, maka dari tahun ke tahun kita akan menemukan bagaimana PUI melakukan pematangan organisasinya. Hal ini bisa dipahami dari Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) yang mengalami perubahan bahkan penyempurnaan yang cukup baik. Sekadar contoh, kini PUI memiliki sistem modern tersendiri dalam mementukan pemimpinnya, seperti melalui Majelis Syura (ahlul halli wal ‘aqdi) atau keterwakilan. Dalam Islam, konsep kepemimpinan ahlu halli wal a’qdi merupakan salah satu terobosan pembaharuan dalam menghadirkan kepemimpinan.

Buatlah Sejarah Baru

Lebih jauh, pada sudut yang lain, selain menginternalisasi Islam PUI juga mampu mengeksternalisasikan Islam dalam wadah negara bernama Indonesia. Itulah yang saya sebut dengan PUI untuk Indonesia.

Pada dasarnya PUI sebagai organisasi dakwah yang bergulat pada bidang pendidikan dan sosial sejak awal sesungguhnya sudah menyiapkan SDM yang bukan hanya bermanfaat untuk dirinya, tapi juga untuk bangsa dan negara. Sekadar contoh, tiga pendiri PUI seperti KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, dan Mr. Syamsudin. Ketiganya bukan saja sebagai pendiri PUI, tetapi sekaligus pendiri Republik Indonesia ini. Ketiganya merupakan anggota BPUPKI, yang kemudian oleh negara (pemerintah) diberi penghargaan sebagai perintis kemerdekaan.

KH. Abdul Halim mendapat penghargaan tertinggi sebagai pahlawan nasional karena termasuk pendiri Republik Indonesia dalam posisinya sebagai anggota BPUPKI. Sedangkan KH. Ahmad Sanusi dan Mr. Syamsudin diakui oleh sejarah bahwa keduanya turut andil dalam pembentukan bangsa ini menjadi negara. Kita tentu berharap agar pemerintah memberikan penghargaan pahlawan juga kepada keduanya. Bukan untuk tujuan “penghargaan” semata, tapi sebagai upaya kolektivisme kebangsaan dalam menghargai jasa-jasa para pendahulu.

Ya, dalam sejarah kita dapat memahami bahwa tokoh-tokoh PUI punya kontribusi besar untuk negeri ini. KH. Abdul Halim adalah pendiri dan anggota Majelis Syura Muslim Indonesia (Masyumi). Kemudian, Azis Halim dan KH. Zaenal Abidin pernah manjadi angota DPR RI dari PPP.

Tidak itu saja, saya sendiri masuk menjadi anggota DPR RI melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk periode 2009-2014 dan sekarang periode 2014-2019. Kemudian Zaky Siradj anggota DPR RI (2014-2019) dari Golkar; KH. Anwar Saleh anggota DPR RI dari PBB; Karna Sobahi Wakil Bupati Majalengka-Jawa Barat dari PDIP; Ahmad Heryawan Gubernur Jawa Barat dari PKS dan sebagainya.
Jadi, pada akhirnya proses kaderisasi dalam tubuh PUI mampu melahirkan pemimpin publik-negara. Proses kaderisasi PUI yang semakin modern bahkan telah mentransformasi PUI dari sekadar organisasi yang bisa menghadirkan kader yang mampu memimpin ormas menjadi organisasi yang menghadirkan kader yang mampu memimpin negara.

Sungguh, sumber inspirasi perjuangan dakwah yang diemban PUI adalah sang nabi tercinta Muhammad S.a.w dan para sahabatnya. Dimana bukan saja beliau mampu memimpin umat Islam tapi juga mampu memimpin umat manusia seluruhnya. Hal itu sudah pernah dilakoni oleh para pendahulu PUI sebagaimana yang dicatat oleh tinta sejarah negeri ini. Maka kini, generasi penerus PUI mesti mampu melakukan kerja-kerja sejarah semacam itu, bahkan kerja-kerja yang lebih luar biasa dari itu. Muktamar ke-13 kali ini adalah ruang sekaligus kesempatan terbaik bagi PUI untuk mengkonsolidasikan seluruh potensinya demi menghadirkan sejarah baru. 