Aher dan Pak Dede pada acara Mubes PUI

KH. Ahmad Heryawan, Ketua Majelis Syura PUI bersama Nurhasan Zaidi pada acara Mubes PUI

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad panutan umat, serta kepada para anggota keluarga dan sahabat beliau semuanya. Dengan membaca salawat dan mengikuti ajaran dan sunnah beliau, kita berharap dengan penuh optimis akan memperoleh syafaat beliau di Hari Perhitungan kelak.

Buku ini terbit pada saat dan momentum yang tepat, ketika bangsa Indonesia sedang melaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu) untuk memilih wakil pemimpin mereka yang terbaik. Pemberitaan media tentang kinerja wakil rakyat yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Senayan menyadarkan bangsa Indonesia bahwa mencari pemimpin yang baik tidaklah semudah memilih satu gambar caleg (calon legislatif) yang kelihatan tampan atau cantik kemudian mencoblosnya di bilik suara.

Kebaikan seorang pemimpin juga tak bisa diukur hanya dari kepeduliannya sesaat menjelang Pemilu dengan membagi-bagikan uang recehan kepada sekelompok pemilih yang memang ditarget menurut perhitungan kepentingan politisnya semata. Kepedulian sesaat, yang ditampilkan dengan kecintaannya yang sesaat pada konstituen pemilih, hanyalah kamuflase. Rakyat Indonesia harus menyadari jebakan-jebakan pemimpin semacam itu agar mereka tak terkecoh, dan bisa betul-betul mendapatkan wakil yang terbaik di Dewan.

Salah satu ciri pemimpin terbaik adalah kecintaannya yang terus-menerus dan tanpa pamrih, yang diperlihatkan dalam bentuk kepedulian serta dibuktikan melalui kerja-kerja nyata yang tuntas pada rakyat. Dia punya akhlak maha cinta, yang diberikannya kepada siapa pun tanpa pandang bulu, tanpa memperhatikan strata sosialnya, bahkan agamanya, serta tanpa menuntut balas jasa. Pemimpin demikian tak bisa hanya duduk manis di depan meja kerjanya, dikelilingi pembantu setia. Setiap saat dia mesti terjun ke bawah untuk mengetahui kondisi rakyatnya di pojok-pojok ruang yang jarang diperhatikan.

Pemimpin seperti itu jarang mengumbar kisah suksesnya ke media massa. Bahkan, orang seperti Abu Bakar r.a, yang begitu dekat dan mengetahui seluk-beluk sepak terjang Muhammad S.a.w, tak mampu merekam satu anekdot tentang maha cinta dan kepedulian Rasulullah kepada seorang wanita Yahudi buta di sudut pojok pasar. Baru setelah beliau wafat, Abu Bakar mengetahui dari puterinya Aisyah bahwa Rasulullah selalu memberi makanan yang sudah dihaluskan kepada si Yahudi renta yang ompong giginya. Meskipun si Yahudi suka mengumpat-umpat agama Islam, Rasulullah yang sedang mendengarnya di hadapannya tidak marah, dan tetap memberi makan nenek tersebut hingga beliau wafat.

Teladan semacam itu kini sungguh sangat langka. Namun, di kita setidaknya masih terdapat sejumlah pemimpin yang mengakar pada rakyat. Mereka rajin bersilaturahim dengan mengunjungi dan menemui rakyat untuk mendengarkan aspirasi, keluh-kesah, harapan-harapan dan cita-cita mereka, serta dengan segala upaya berusaha sebisa mungkin memenuhi kebutuhan mereka dan memperjuangkannya melalui jalur-jalur resmi, terutama jika hal itu menyangkut hajat hidup rakyat secara nasional. Di DPR, proses menyerap aspirasi rakyat itu dilakukan melalui kegiatan kunjungan kerja (kunker) ke orang-orang atau lembaga-lembaga di dalam maupun luar negeri.

Penulisan buku ini layak kita apresiasi karena memberi kita cermin tentang kiprah kepemimpinan salah seorang wakil rakyat yang diberi mandat untuk bertugas di DPR selama masa kerja lima tahun. Di mata saya, apa yang dilakukannya tak berlebihan, karena saya sendiri sudah lama mengenal Nurhasan Zaidi, bersama-sama berdakwah di lingkungan ormas Persatuan Ummat Islam (PUI) maupun di PKS, salah satu partai yang digerakkan berdasar konsep dakwah Islam. Sejak masih duduk di bangku mahasiswa, kami pernah sama-sama blusukan bersilaturahim ke kantong-kantong komunitas umat, khususnya di wilayah Jawa Barat, serta di kampus-kampus, untuk melakukan dakwah bil lisan maupun bil hal dengan fokus pada aspek pengkaderan.

Buku ini menjadi lebih penting karena sejak awal telah dipersiapkan dengan niat sebagai bagian dari pertanggungjawaban Nurhasan Zaidi, yang biasa kami panggil Dede, atas kiprahnya dipercaya menjabat sebagai wakil rakyat periode 2009-2014. Saya melihat, tak banyak anggota DPR yang membuat catatan-catatan seperti yang direkam Dede lewat bukunya ini. Padahal, rekaman semacam itu sangat diperlukan, selain untuk pertanggungjawaban pada publik pemilihnya, juga sebagai salah satu aspek manajemen pengetahuan kedewanan yang patut diwariskan kepada generasi-generasi politisi berikutnya. Dengan membaca buku karyanya ini, pembaca pun menjadi paham betul bagaimana liku-liku seorang politisi muda berkiprah dan berkhidmat di Senayan.

Salah satu kiprahnya yang unik adalah upayanya mensinergikan antara kegiatan partai politik dengan aktivitas organisasi kemasyarakatan (ormas). Partai politik bersuara minoritas hendaknya menggalang kerjasama dengan sebanyak mungkin ormas untuk memperjuangkan visi misi mereka. Hal itu dilakukannya karena dia sadar betul, penentuan kebijakan publik, anggaran, dan peraturan perundang-undangan di DPR diproses melalui sistem demokrasi yang mengandalkan suara anggotanya, yang sejak awal ditugasi membawa sikap fraksi serta partai yang bersangkutan. Jika suara satu atau beberapa fraksi tidak mayoritas dibanding suara fraksi serta partai lainnya yang berseberangan, jangan harap seorang anggota bisa berhasil memperjuangkan aspirasi rakyat, betapa pun baik dan idealis aspirasi tersebut.

Saya berharap buku Khidmat untuk Rakyat yang bagus dan sangat berisi ini menjadi rujukan inspiratif bagi para pemimpin muda untuk memperkuat barisan umat dalam memperjuangkan cita-cita menuju Indonesia yang lebih baik serta diridhai Allah S.w.t, sebuah negeri yang kita dambakan sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Amin.

Bandung, 6 Maret 2014
Ahmad Heryawan