image/google.com

Baru-baru ini lembaga bisnis dan ekonomi global McKinsey Global Institute (MGI) merilis hasil studinya, bahwa Indonesia berpotensi menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketujuh dunia pada tahun 2030. MGI hanyalah satu di antara berbagai lembaga independen global yang menyatakan optimisme terhadap masa depan Indonesia. Prediksi itu menandakan progresifitas pembangunan Indonesia yang tentu saja kita harapkan bisa dinikmati semua lapisan masyarakat.

Atas dasar itu, maka umat Islam juga harus terlibat aktif dalam proses pembangunan. Sebagai simpul besar bangsa ini, kontribusi umat sangat dibutuhkan. Jika menengok ke sejarah lahirnya bangsa Indonesia, peran umat Islam dalam mewujudkan Indonesia merdeka sangat vital. Hal ini ditegaskan oleh Nurhasan Zaidi, anggota Komisi VIII DPR RI dalam kunjungan kerjanya di Subang (23/9).

Pemahaman pentingnya terlibat dalam pembangunan, tentu saja harus diikuti oleh kesadaran sebagai bangsa besar dan berdiri karena kokohnya pilar-pilar kebangsaan. Pilar yang dimaksud adalah UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Di hadapan ratusan guru Madrasah Diniyah dari 11 kecamatan se Kabupaten Subang, Nurhasan meminta agar umat tidak lagi mendikotomikan antara pemahaman keagamaan dan kebangsaan. Sebab, semua menerima Pancasila sebagai kesepakatan nasional untuk menyatukan keanekaragaman rakyat Indonesia.

Menurut Nurhasan, sesungguhnya nilai-nilai kebangsaan disarikan dari nilai-nilai Islam. “Umat Islam harus mengisi kemerdekaan ini, pemahaman kita terhadap Pancasila adalah pemahaman tauhid” kata anggota DPR Fraksi PKS dari daerah pemilihan Subang, Majalengka dan Sumedang tersebut. Sosialisasi empat pilar ini berlangsung di MF Point. Dikemas dengan silaturrahim interaktif dan berlangsung antusias.[JD]