JAKARTA (salam-online.com): Sejak munculnya Film Innocence of Muslims (IoM) yang menghina Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, gelombang kecaman umat Islam dunia tidak pernah berhenti.

Beragam ekspresi kekecewaan kerap dilakukan sebagai simbol penolakan dalam penistaan. Mulai dari aksi membakar bendera AS hingga bentrok dengan aparat keamanan yang berujung korban.

Namun tidak demikian dengan Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ummat Islam. Ormas yang didirikan oleh KH. Abdul Halim (anggota BPUPKI) ini melakukan “aksi” berbeda. Ia menggalang kekuatan dengan 35 ormas.

KH. Nurhasan Zaidi, Ketua Umum DPP Persatuan Ummat Islam (PUI) prihatin dengan semakin maraknya diskriminasi agama yang dialamatkan kepada Islam oleh AS dan sekutunya.

“Seluruh organisasi kemasyarakatan Islam harus bersatu guna mengembalikan harga diri dan kehormatan Islam yang diinjak-injak oleh Barat.” Terkait kasus pembantaian Rohingya, “ini adalah bentuk pelanggaran HAM berat yang tidak bisa ditolerir lagi. Harus ada sanksi hukum berat.”

Dalam kasus terbaru, film penghinaan atas Nabi, “Kami (PUI) mengecam keras segala bentuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Sebab penistaan ini adalah bentuk diskriminasi terhadap agama dan keyakinan semua agama,” terang Nurhasan Zaidi, dalam sambutan Diskusi Bulanan Dewan Pimpinan Pusat PUI di Aula Masjid Baitul Ihsan Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Budi Kemuliaan 23, Jakarta Pusat, Jum`at (28/9/2012) lalu.

H. Iman Budiman, moderator yang juga Ketua Umum PP Pemuda PUI menegaskan, “Konsolidasi ormas ini penting, sebagai bentuk gerakan massal dari seluruh komponen umat.” Jelasnya pula, “Kini, dunia Islam tengah mengalami gejolak yang luar biasa. Diskriminasi sebagai pelanggaran HAM tengah banyak dihadapi umat Islam. Mereka harus kehilangan hak hidup serta mendapatkan hak sebagaimana umat manusia umumnya. Barat sebagai pengagung HAM justru terlibat dalam penghilangan hak warga Muslim.”

Diskusi bulanan ini menghadirkan Dr. Hidayat Nur Wahid (Ketua Perwakilan Rabithah Alam Islami Indonesia), Ir. Abdul Hakim, MM (Ketua Rombongan Delegasi Indonesia Untuk Rohingya) dan Tomy Hendrajati (Direktur Program PKPU).

Dalam paparannya, Dr. Hidayat Nur Wahid memandang penting adanya sikap bersama seluruh komponen organisasi Islam. Hidayat sangat mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh PUI.

“Islam di seluruh dunia harus manjadi bagian dalam melawan kecongkakan Barat. Di era modern sebagai zaman kemerdekaan, bahwa penjajahan terhadap semua bangsa tidak dibenarkan oleh hukum mana pun,” terangnya.

Ketua Rombongan Delegasi Untuk Rohingya, Ir. Abdul Hakim, MM memaparkan, bahwa Muslim Rohingya sangat membutuhkan bantuan umat Islam dunia. Dia bertemu dengan para ulama dan pemuda Islam Myanmar yang menggagas perlunya kerjasama konkret, misalnya pertukaran pelajar dan pengiriman para da`i.

KH Nurhasan Zaidi

“Kondisi Muslim Rohingya sangat mengenaskan.”  Untuk itu ia meminta pemerintah Myanmar segera menghentikan diskriminasi dan intimidasi terhadap mereka.

“Negara Myanmar harus bisa meyakinkan dunia, bahwa HAM dihormati dan dijalankan tanpa ada pembedaan di mana pun.”

Di akhir Diskusi, seluruh ormas sepakat menggelar aksi damai besar-besaran di Bundaran HI dan Kedubes AS pada hari Ahad, 30 September 2012 lalu.