Perjalanan hidup H. Nurhasan Zaidi cukup dinamis. Sejak awal selain aktif dalam kegiatan dakwah ia juga menjadi guru di beberapa sekolah dan madrasah.

Hampir 10 tahun lebih,  ia aktif mengajar di Madrasah Ibtidaiyyah, SMP dan maupun Aliyah. Namun, karena kesibukannya yang cukup padat, tugas mengajarnya berhenti. Meski demikian, sebagai da’i, ia tetap merasa berkewajiban secara informal untuk berdakwah dan  memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

Ia juga aktif berwiraswasta. Selain untuk menyempurnakan sunnah Nabi bahwa pekerjaan terbaik itu berdagang, juga untuk menambah penghasilan hidup supaya menambah keberkahan. Wirausaha yang pernah dirintisnya dari mulai membuka toko buku dan alat tulis, percetakan hingga penerbitan walaupun usahanya belum cukup besar. Namun, alhamdulillah bisa dibilang berkah untuk memenuhi kebutuhan sebagai aktifis dakwah. Aktifitas wirausaha ini merupakan sebuah ikhtiar membangun kemandirian bagi dirinya yang juga ditanamkan sangat kuat oleh kedua orang tuanya.

Sebetulnya kebiasaan mandiri Nurhasan telah tumbuh sejak kecil. Pada saat sekolah SD sampai kuliah kegiataan belajar wiraswasta telah dilakukan. Kemandirian melalui wiraswasta baginya adalah selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi juga menumbuhkan kemampuan interaksi sosial yang kelak akan dibutuhkan bagi aktifitas dakwah dan politik. Inilah yang memotivasi Nurhasan. Sebab para Nabi dan wali di Indonesia selain melakukan aktifitas dakwah juga berdagang.

Nurhasan berupaya agar seluruh aktifitas pekerjaannya selalu memiliki dua dimensi duniawi dan ukhrawi. Baginya kerja amaliah yang berkah harus memiliki 3 syarat, pertama Memiliki nilai Nashrul fikrah dakwah (penyebaran nilai dakwah), kedua tanmiyyatul kafaah (pengembangan skill), ketiga Kasbul maisyah (mendapatkan penghasilan). Ketiga syarat inilah yang perlu selalu terintegrasi dalam kerjanya, sehingga seluruh kerja-kerja amal akan tetap terus berkontribusi kepada kebangkitan dakwah. Manakala ketiganya berjalan masing-masing apalagi parsial, maka keberkahan hidup kurang sempurna serta tujuan-tujuan dakwah pun akan sulit dicapainya.

Sebagaimana firman Allah, Dan tidak aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk mengabdi padaku (Allah). Jadi hakekatnya seluruh aktifitas hidup kita harus selalu dalam kerangka ibadah dan selalu dalam tujuan-tujuan dakwah. Karena seluruh amaliah kita pada akhirnya akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT kelak, sebagaimana Rasulullah berfirman “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dminta pertanggung jawabannya.”