Sejak 1998 H. Nurhasan Zaidi aktif dalam kepengurusan Partai Keadilan (PK). Dalam pandangannya, amaliah dakwah akan lengkap dengan menyempurnakannya melalui aktifitas politik.

Karena, dalam Doktrin dan Intisab Pedoman Amaliah PUI Ishlahust Stamaniyyah (delapan perbaikan PUI) salah satunya adalah Islahul Mujtama dan Ummah (perbaikan masyarakat dan ummat). Artinya tidak mungkin kita dapat melakukan perbaikan masyarakat dan ummat tanpa melakukan aktifitas siyasah (politik).

Di tahun 2004 – 2009 Nurhasan Zaidi  di amanahi untuk mendampingi Ustadz Anis Matta sebagai Sekretaris Jenderal PKS. Didalam kultur PKS amanah jabatan itu tidak boleh meminta dan juga tidak boleh menolak jika diberi amanah. Untuk itu ketika PKS melalui Ustadz Anis Matta memintanya membantu sebagai Wakil Sekjend, Nurhasan sempat bertanya, “Apakah saya mampu, bukankah ada yang lebih ahli”

Ustadz Anis menjawabnya, “Orang ahli banyak, bisa dicari dan diciptakan. Keahlian bisa dipelajari asal mau, saya lebih memerlukan orang yang bisa diajak amal jama’i, (bekerja kolektif), mampu memimpin dan mau bekerja keras belajar untuk mau maju, dan antum bisa Insya Allah,” begitu ustadz Anis Matta memotivasi dirinya.

Gaya ustadz Anis memang kalau menjawab dan memotivasi selalu memberikan optimis. Pada saat menerima amanah ada secercah harapan untuk menapaki tanggung jawab tersebut. Awalnya ragu namun akhirnya menjadi sami’na waato’na (kami dengar dan kami thaat). Sikap ini yang memang telah menjadi perilaku kader PKS.

Nurhasan berkeyakinan kekuatan utama PKS ada pada kerja kolektif yang solid, bukan sekadar kekuatan perorangan yang selalu ada keterbatasan dan kekurangan. Dengan kekuatan kolektiflah kelebihan dan keterbatasan saling menyempurnakan dan menutupi untuk membangun bangsa yang besar.

Memasuki 4 tahun perjalanan amanahnya, sudah 13 buku yang diterbitkan dari bidang Arsip dan Sejarah. Ternyata 10 tahun perjalanan PKS atau bila ditambah dengan perjalanan dakwah tarbiyyah sebelum PKS berdiri, berarti 28 tahun umur perjalanan dakwah politik terhitung sejak 1980-2008. Dari 13 buku yang terbit, seluruhnya berasal dari Bidang Arsip dan Sejarah PKS. Mutiara-mutiara arsip PKS yang telah berumur 28 tahun, sangat banyak menyimpan pewarisan pemikiran dakwah yang berharga untuk generasi dakwah kedepan. Bagi Nurhasan, arsip tidak lagi dipersepsikan sebagai tumpukan kertas masa lalu, yang sewaktu waktu dibutuhkan saja, tapi bisa dikembangkan menjadi produk ilmu pengetahuan (knowledge) yang akan menjadi referensi bagi generasi dakwah yang akan datang.

Alhamdulillah dalam konteks kepartaian di Indonesia, ada rasa syukur tersendiri ketika beberapa waktu yang lalu Bidang Arsip dan Sejarah PKS diundang menjadi pembicara dalam sebuah seminar “Penyelamatan Arsip Partai Politik dalam Kehidupan berbangsa dan bernegara”, yang diadakan oleh Arsip Nasional (ANRI). Ada apresiasi yang sangat menggembirakan dari pihak ANRI, bahwa PKS termasuk paling maju dalam hal menjadi partai yang peduli dengan arsip dan sejarahnya. Sebab, kearsipan partai punya nilai tersendiri bagi proses pembangunan bangsa. Mudah-mudahan ini langkah awal untuk terus menjadi seperti  istilah K.H.Hilmi Aminuddin shahibul mubadarah (pemegang inisiatif) hingga masa-masa mendatang.