PERTEMUAN DUA AKTIVIS

Nurhasan Zaidi bersama Ahmad Heryawan

Nurhasan Zaidi bersama Ahmad Heryawan

Antara tahun 80-an sampai dengan menjelang Reformasi 1998, situasi dakwah di Indonesia sangat tidak kondusif. Tekanan dari para penguasa Orde Baru terhadap setiap kegiatan berlabel Islam begitu keras. Dakwah tidak tumbuh pesat karena semua diawasi Pemerintah. Dalam kondisi demikian, alhamdulillah saya dan Ahmad Heryawan (Aher) dipertemukan oleh Allah. Kami memang sama-sama aktifis dakwah yang berusaha menyiasati keterbatasan yang dipatok Pemerintah melalui beragam aturan.

Saya ketika itu bergiat di Persatuan Umat Islam (PUI), organisasi kemasyarakatan Islam berusia seabad lebih yang pengurusnya dicari-cari aparat karena enggan menerima asas tunggal Pancasila; sedangkan Aher berdakwah di kampus-kampus, jalur perjuangan yang sedang bersemi di masjid-masjid kampus. Rupanya ada orang-orang yang diam-diam menyemai benih kejayaan Islam dengan mencari pemuda-pemudi cerdas untuk diajak mempelajari Islam. Aher salah satu perintisnya.

Sebagai sesama aktifis dakwah pemuda, saya sering berinteraksi dengan Aher. Beliau lulusan LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), lembaga pendidikan yang didirikan Pemerintah Saudi Arabia di Jakarta. Bisa ditebak, Aher memiliki kemampuan intelektual, penguasaan dan pemahaman ilmu-ilmu Islam yang bagus. Saya sering mengundang Aher untuk memberi ceramah tentang keislaman di kalangan PUI. Sejak itu kami secara intensif berteman, berbagi pengalaman dan saling membantu dalam urusan dakwah.

Tak disangka, ternyata Aher berasal dari keluarga PUI. Suatu hari, tanpa diminta, dia bercerita bahwa keluarga besarnya di Sukabumi, Jawa Barat, juga penggerak PUI. Hati kami pun semakin terpaut. Tampaknya hasil dakwah KH Ahmad Sanusi, salah seorang pendiri PUI di Sukabumi, menyemai banyak kader. Tak heran jika dari kader PUI di Sukabumi lahir aktifis dakwah sekualitas Aher. Sejak saat itu saya dan Aher bersinergi membangun dakwah di PUI.

 

Bersama Membangun Dakwah di PUI

Saya dan Aher aktif di PUI sejak mahasiswa. Kami membangun kegiatan dakwah, sosial dan pendidikan bersama sesepuh PUI di Jakarta, antara lain almarhum KH. Yazid Bustomi, almarhum Syarif Hidayat Kori, almarhum H.M.U. Zainuddin Kori, H. Anwar Shaleh, H. Ahmad Rifa’i, K.H. Cholid Fadlullah, H. Iing Solihin, Nazar Haris, Hj. Husmiyati Hasyim MA. dll.

Karena PUI saat itu mengalami krisis kaderisasi kepemimpinan, maka kegiatan ormas ini dititikberatkan pada kaderisasi. Kegiatan yang paling banyak dilakukan adalah Pekan Ukhuwah atau Daurah yang sekarang disebut Training Intisab PUI. Selain itu, kami secara berkala melakukan kunjungan silaturahim ke para tokoh PUI di daerah-daerah.

Sejak 1992, Aher diamanahi untuk memegang training dakwah kepemudaan dan guru madrasah se-Jawa Barat. Menjelang reformasi, kami intensif melakukan kaderisasi pemudasampai ke pelosok-pelosok desa di Jawa Barat. Kami juga bersama-sama turut mendorong gerakan reformasi.

Aktifitas kaderisasi memang jauh dari popularitas, tidak terlihat langsung hasilnya. Tetapi gerakan reformasi 1998 yang dipelopori para pemuda berhasil menumbangkan rezim Soeharto yang sudah berkuasa 32 tahun. Sejarah yang dicatat banyak media saat itu Soeharto turun karena gerakan mahasiswa. Dari mana mahasiswa sebanyak itu bisa berkumpul dan bersatu? Mengapa gerakan mahasiswa di kampus-kampus sedemikian berani dan kompak mengusung agenda reformasi? Memang ada nama-nama yang diangkat media, tetapi yang jelas terlihat adalah buah kaderisasi pemuda dan kampus. Dan reformasi adalah angin segar bagi PUI untuk bisa hidup kembali tanpa takut dibekukan lagi.

Kebangkitan pasca reformasi bagi PUI adalah Muktamar XI yang dilaksanakan 8-11 Desember 2004 di Jakarta. Semangat kebangkitan itu terasa betul dalam suasana muktamar. Saat itulah Aher terpilih menjadi Ketua Umum DPP PUI. Saya sendiri diamanahi sebagai Ketua Pemuda PUI, yang sebelumnya dipegang Aher. Usia Aher saat itu 38 tahun dan saya setahun lebih muda darinya. Kerja besar yang kami lakukan bersama-sama adalah kaderisasi. PUI akan kembali meriah jika diisi oleh kader-kader muda yang penuh semangat dan ikhlas berdakwah untuk mengembalikan kejayaan umat.

“PUI akan kembali meriah jika diisi oleh kader-kader muda yang penuh semangat dan ikhlas berdakwah untuk mengembalikan kejayaan umat” (Nurhasan Zaidi)

Nurhasan Zaidi pada acara Pelantikan PW Pemuda PUI Lampung

Nurhasan Zaidi pada acara Pelantikan PW Pemuda PUI Lampung