Prof. Dr. H. Deddy Ismatullah

Prof. Dr. H. Deddy Ismatullah

Dakwah dan politik merupakan dua entitas yang sering dipertentangkan oleh banyak pihak. Yang demikian itu karena politik sudah dipersepsi oleh masyarakat sebagai sesuatu yang “kotor,” penuh intrik, tipu daya dan, lebih parah lagi, penuh dengan korupsi. Persepsi seperti itu tidak sepenuhnya bisa disalahkan mengingat fakta sehari-hari menunjukkan hal itu. Perebutan kekuasaan, korupsi, dan lain sebagainya seringkali berhimpitan dengan, kalau bukan karena, persoalan politik. Kondisi ini memunculkan sikap skeptis di kalangan sebagian masyarakat, bagaimana mungkin politik yang “kotor” seperti itu dapat menjadi kendaraan untuk berdakwah.

Nurhasan Zaidi melalui karyanya yang berjudul Khidmat untuk Rakyat ingin menunjukkan bahwa politik menjadi sarana penting bagi dakwah Islam. Sebab, banyak kebijakan yang diambil oleh negara, di satu sisi, dapat membantu memperlancar dakwah namun, di sisi lain, juga bisa mengganggu aktivitas dakwah. Dengan berpartisipasi dalam politik, aspek positif dan negatif dari kebijakan tersebut dapat diawasi dan diarahkan sehingga politik dapat membantu meningkatkan dakwah.

Sejatinya, politik merupakan sesuatu yang amat mulia karena ia berusaha membangun kehidupan sosial yang baik melalui kebijakan-kebijakan yang diambil secara bersama-sama. Artinya, tujuan politik adalah kebaikan bersama bagi seluruh masyarakat. Akan tetapi, jika politik sudah menjadi semata-mata sarana perebutan kekuasaan dan kepentingan bagi pihak tertentu, dan melupakan tujuan utamanya, maka politik seolah-olah telah menjadi sarana yang menghalalkan segala cara untuk kekuasaan dan kepentingan tersebut.

Tentu, ini berlawanan dengan semangat dakwah Islam, yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak, persuasif dan benar. Dengan kata lain, jika politik hendak dijadikan sebagai sarana dakwah, ia harus terikat dengan nilai-nilai tersebut. Di sinilah berlaku kaidah lil wasaili hukmul maqashid (Sarana memiliki kedudukan hukum yang sama dengan tujuan), bukan sebaliknya al-ghayah tubarrirul wasilah (Tujuan menghalalkan segala cara).

Nurhasan Zaidi, melalui kiprahnya sebagai anggota DPR, telah berusaha menunjukkan bahwa politik harus dibarengi dengan nilai-nilai moral dan bertujuan untuk kepentingan umum masyarakat. Inilah yang ia terjemahkan sebagai bagian dari dakwah, yang menjadi semangat perjuangannya sejak awal di organisasi massa. Semoga niat mulia Saudara Nurhasan Zaidi untuk berdakwah melalui politik dapat terus diwujudkan pada masa-masa yang akan datang. Amin.

Bandung, Maret 2014

Prof. Dr. H. Deddy Ismatullah, SH., M.Hum.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung