Image/goggle.co.id

Ketua Umum Persatuan Umat Islam (PUI) Nurhasan Zaidi menghimbau masyarakat jangan tertipu dengan uji publik kurikulum 2013. Bahan uji publik tersebut ditengarai kuat bukan dokumen lengkap kurikulum 2013. Hal ini disampaikan dalam diskusi bulanan Dewan Pengurus Pusat PUI dengan tema Mengkaji dan Mengkritisi Kurikulum Tahun 2013 yang diadakan hari Selasa, 15 januari 2013 di Kantor DPP PUI, Jakarta.

Rohmani, anggota Komisi X FPKS DPR-RI yang menjadi narasumber dalam diskusi itu menegaskan bahwa sampai tanggal 15 Januari 2013 Mendikbud belum menyampaikan dokumen lengkap kurikulum kepada DPR. Dokumen lengkap kurikulum yang dimaksud meliputi minimal tujuan, isi, strategi pembelajaran dan evaluasi.  Ini sekaligus mengklarifikasi pernyataan Mendikbud Muhamad Nuh di berbagai media yang mencoba meyakinkan publik bahwa kurikulum 2013 adalah yang terbaik dan sudah siap implementasi.

“Uji publik kurikulum 2013 hanya pencitraan atau sekedar mendapat legitimasi publik, bukan sungguh-sungguh ingin melibatkan masyarakat” tukas Nurhasan. Ia melihat bahwa sektor pendidikan Indonesia harus dibenahi agar bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncak produktivitas pada tahun 2045, bisa terkelola secara optimal dan berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa.

“Pendidikan yang baik sangat strategis untuk masa depan. Karena itu desain kurikulum pendidikan harus dibahas serius bukan sekedar akal-akalan.”, tugas Ketua PUI yang mengelola ratusan sekolah Islam di Indonesia.

Kurikulum 2013 memang menuai kritik dari berbagai kalangan masyarakat lantaran dipandang banyak memiliki celah. Diantaranya konsep integrasi tematik mengakibatkan hilangnya mata pelajaran IPA dan IPS. Kurikulum pendidikan selama ini dianggap sebagai kelinci percobaan sehingga tidak pernah tuntas dalam melahirkan sumber daya manusia Indonesia sesuai cita-cita konstitusi. Tak ada visi besar yang menjadi roh kurikulum Indonesia sehingga tidak jelas generasi apa yang akan dibentuk dengan kurikulum tersebut. [alwin | ed. jd]