Nurhasan Zaidi dan Anis Matta

Nurhasan Zaidi dan Anis Matta

Jika melihat sejarah, kita akan menemukan banyak organisasi atau gerakan Islam yang usianya lebih tua dari negara-bangsa Indonesia. Atau dengan kata lain, organisasi itu berdiri sebelum Indonesia merdeka. Persatuan Ummat Islam (PUI) tempat Akh Nurhasan Zaidi berkhidmat dan bergiat selama ini punya sejarah panjang. Didirikan dengan nama Majlisul Ilmi pada 1911 di Majalengka, Jawa Barat, organisasi ini bertahan sampai sekarang seiring dinamika perjalanan sejarah bangsa ini. Menghadapi tekanan penjajah Belanda, mendapat fitnah karena mengembangkan pola sekolah modern seperti sekolah Belanda dengan kursi, bangku dan meja tulis (bukan model “sorogan” yang lazin diterapkan pesantren atau madrasah klasik) adalah salah satu tantangan yang dihadapi di awal usianya.

Dari sejarah kita belajar betapa Islam telah menjadi faktor kohesi dalam pembentukan nasionalisme Indonesia yang akhirnya berujung pada kemerdekaan Indonesia. Organisasi pergerakan Islam menyediakan jejaring, interaksi dan cara pandang teritorial yang menempatkan nusantara sebagai satu kesatuan wilayah. Karena itu, kita bisa membaca sejarah perjalanan organisasi seperti PUI dalam kerangka sejarah kebangsaan Indonesia. Pendiri PUI, KH Abdul Halim dan KH Ahmad Sanusi, juga menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Organisasi ini beberapa kali berganti nama sebagai siasat menghadapi tekanan dan perubahan zaman. Pada 1952, organisasi ini beralih nama menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI) sampai sekarang. Tahun 1952 adalah era ketika bangsa Indonesia sedang mencari sistem dan format kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah perang ideologi yang begitu hebat di tingkat dunia. Bangunan kenegaraan Indonesia tengah mengalami trial & error, sementara partai politik dan organisasi kemasyarakatan menjadi ekstensi ideologi-ideologi besar yang sedang berebut menjadi pemenang dalam Perang Dingin.

Dua setting sejarah inilah yang menempatkan PUI sebagai organisasi yang ditempa oleh zaman. Apalagi, jika kita membaca buku ini, Nurhasan menjadi penggiat utama PUI pada era 1980- an, ketika relasi agama dan negara Orde Baru sedang dalam puncak ketegangannya. Negara mencoba mengontrol “otak dan hati” semua elemen masyarakat dengan menerapkan Pancasila sebagai asas tunggal bagi seluruh partai politik dan organisasi kemasyarakatan.

Nurhasan adalah anak biologis sekaligus anak ideologis gerakan dakwah Islam. Lahir di keluarga aktivis dakwah, Nurhasan kemudian memilih jalan hidup di jalur yang sama dengan ayah, ibu dan keluarga besarnya. Sejak usia muda dia sudah bergabung dengan Pelajar Islam Indonesia (PII), menjadi Ketua Pemuda PUI dan kini menjadi Ketua Umum PUI 2009-2014. Nurhasan melintasi serangkaian ketegangan ideologis dan politis seiring evolusi politik dan demokrasi Indonesia. Saya memahami betapa berat hidup menjadi aktivis dakwah di tahun 1980-an, juga memimpin sebuah organisasi pergerakan islam yang bergerak di bidang pendidikan formal dan non-formal serta pemberdayaan ummat. Mulai dari represi negara otoriter, hingga gelombang kebebasan yang melanda bagai air bah seiring Reformasi, semua harus dihadapi seraya terus membimbing ummat di tengah segala perubahan dan ketidakpastian. Tak berlebihan jika saya memberi tajuk pengantar saya: Nurhasan Si Anak Zaman, karena ia memang telah menjadi saksi perubahan zaman dalam gerakan Islam di Indonesia.

Transformasi yang dijalani Nurhasan mirip dengan yang saya alami, dari penggiat dakwah masuk ke jalur politik sebagai bagian dari dakwah bil haal. Melalui politik, kita bisa memperjuangkan kebijakan publik yang kita yakini baik bagi kemaslahatan ummat dan bangsa. Sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saya harus mengatakan kami beruntung memiliki kader seperti Nurhasan yang telah ditempa oleh zaman dan menjalankan panggilan hidup di jalan dakwah dengan penuh penghayatan. Insya Allah kiprah Nurhasan selama lima tahun di DPR sekarang telah menjadi sumbangsih yang berharga dan dicatat sebagai ibadah oleh Allah S.w.t.

Saya mendukung penulisan buku di akhir periode jabatan publik sebagai semacam laporan akuntabilitas kepada konstituen dan masyarakat yang selama ini diwakili. Buku ini juga bisa menjadi referensi bagi generasi muda yang memilih politik sebagai ruangnya untuk berkiprah. Lewat ini juga kita bisa membaca konsistensi Nurhasan dalam memperjuangkan kemaslahatan ummat terutama dalam bidang yang selama ini menjadi perhatiannya, yaitu pendidikan. Karena itu pula saya mendoakan agar Nurhasan dapat terpilih kembali pada pemilu 2014 agar dapat melanjutkan perjuangannya selama ini.

Saya ingin menutup pengantar saya dengan satu pelajaran menarik yang saya petik dari buku ini. Ini pelajaran dari ayahanda Nurhasan, bahwa antara dakwah dan keluarga mesti menyatu. Kedua urusan ini jangan dipisahkan sehingga keduanya bisa efektif dan tidak saling menjadi beban. Mengurus dakwah juga berarti mengurus keluarga, mengurus politik sama dengan mengurus dakwah. Ayahanda Nurhasan mencontohkan betapa ketika beliau mengurus dakwah selalu mengajak keluarga. Saya rasa ini pelajaran menarik dan berharga bagi seluruh aktivis dakwah sekarang.

Saya merekomendasikan buku ini dibaca oleh para aktivis dakwah, baik di kalangan PKS maupun gerakan Islam di Indonesia yang lebih luas. Saya juga menyarankan agar para pemilih di daerah pemilihan membaca buku ini untuk mengukur sejauh mana Nurhasan telah memenuhi janjinya. Tidak hanya membaca, saya mengundang seluruh kostituen untuk memberi kritik dan masukan terhadap buku ini dan terhadap kiprahnya selama ini sehingga Akh Nurhasan dapat memperbaiki diri dalam pengabdiannya di masa mendatang.

Semoga buku ini bermanfaat. Selamat membaca.

Jakarta, 8 Maret 2014

Anis Matta