H. Nurhasan Zaidi

Menjadi pejabat nega­ra tak membuat Nurhasan Zaidi melupakan dari mana ia berasal. Senyumnya yang renyah membuat setiap orang yang bertemu dengannya akan mudah akrab. Pria berperawakan sedang dan berkulit sawo matang ini mudah diingat siapa yang pernah mengenalnya. Pembawaannya hangat dan cenderung low profile. Bila diajak bicara dan diskusi, ia mengasyikan. Ia suka humor, tapi juga serius dan penuh semangat ketika menghadapi persoalan keummatan dan kebangsaan.

Nurhasan Zaidi yang akrab dipanggil Dede lahir di Bandung, 20 September 1967 dari pasangan H.M.U Zainuddin Qori (almarhum) dan Eti Dawati, keluarga aktifis dakwah dan pendidik. Sang ayah aktif di ormas Persatuan Ummat Islam (PUI) dan Gerakan Pemuda Islam (GPI).  Jiwa aktifis sang Ayah tampaknya tercermin dalam sosok Nurhasan. Pertumbuhan pemikirannya  juga dipengaruhi oleh beberapa pamannya, yaitu KH. Hilmi Aminuddin yang saat ini menjadi Ketua Majelis Syura PKS, tokoh dakwah yang merintis gerakan tarbiyah di Indonesia.  Pamannya yang lain juga memberikan pengaruh besar bagi jiwa kepemimpinan Nurhasan, yaitu H. Asep Saefullah, H.Syarif Hidayat dan Drs. Djaja Rahmat. Kakek, ayah, dan  pamannya, baik dari keluarga ayah maupun  ibu, baginya adalah guru yang paling banyak membentuk karakter dan pikirannya.

Nurhasan  menikah pada umur 26 tahun dengan seorang mojang priangan Sukabumi, Herliani. Kini telah Allah mengaruniai mereka tujuh orang putra dan satu orang putri, yaitu Ahmad Izzuddin, Zaid, Muna, Hayyan Hasan, Muhammad Danu, Daud Hasan3, Harun Abdul Ghafur (alm) dan Imam Abdullah. Baginya keluarga adalah energi perjuangan. Istri sebagai pendamping utama dalam perjuangannya.

Dede menamatkan pendidikan dasar di SD Islam Al Falah, Pejompongan-Jakarta Pusat. Jenjang  SMP hingga Perguruan Tinggi ditamatkannya di Perguruan Jamiat Khair, Jakarta. Gelar sarjananya ia dapatkan dari Fakultas Dakwah di Institut Agama Islam Al-Aqidah Jakarta.

Jiwa kepemimpinannya terasah sejak SMP sampai perguruan tinggi, ia selalu diamanahi memimpin organisasi pelajar dan kemahasiswaan. Kini ia dipercara menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ummat Islam (DPP PUI).
Bagi keluarga besarnya, PUI memang merupakan ruang artikulasi dan pengabdian pada ummat. PUI didirikan KH. Abdul Halim dan KH. Ahmad Sanusi, ulama yang juga anggota Badan Pelaksana Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Sejak akhir 1985-an, Nurhasan sudah turun langsung ke setiap pelosok daerah di Jawa Barat. Ia membangun jaringan dan basis akar rumput dengan kader-kader PUI. Dengan cara ini ia konsisten menjaga pengkaderan PUI. Bersama tokoh muda PUI lainnya, yaitu H. Ahmad Heryawan, Nurhasan membangkitkan kembali semangat dakwah di PUI setelah mengalami pasang surut yang cukup panjang. PUI yang dalam perjalanan sejarahnya selalu menjadi “oposisi” terhadap pemerintah Orde Baru.

Hal itu semakin optimal, tatkala Nurhasan diberi amanah pasca Muktamar XII di Jakarta tahun 2004. Nurhasan dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat PUI, sementara Ahmad Heryawan menjabat Ketua Majelis Syuro PUI. Kepempimpinan PUI periode 2010-2015 oleh sebagian kalangan diyakini merepresentasikan kepemimpinan muda PUI. Sebuah prototipe kepemimpinan yang memiliki energi segar dan visioner.

Suka duka aktif di PUI alhamdulillah dapat dinikmati, karena istilah Nazar Haris Sekjend Majelis Syuro PUI saat ini, ”Di PUI itu sangat banyak tantangan amaliah dan janji pahala untuk bisa kita dapati,”. Untuk itu bagi Nurhasan beserta aktifis PUI lainnya, berkiprah di PUI bisa dinikmati untuk beramal, Insya Allah mudah-mudahan selalu terjaga keikhlasanya sehingga mendapatkan janji pahala dari Allah SWT.

Dengan pengalaman empiris yang cukup panjang, bagi Nurhasan proses pembelajaran bukan hanya terbatas pada sekat-sekat kampus, justru pasca kampuslah pendalaman hakekat belajar itu dilaksanakan sepanjang hidup, dari buaian sampai liang lahat. Ujian belajar yang sesungguhnya justru saat pengabdian pada ummat. Bagi Nurhasan, ilmu itu akan berkembang dan mendapatkan keberkahan bila dapat dimanfaatkan untuk ummat dan bangsa untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.